Rekomendasi Game Edukasi yang Baik Dimainkan Anak Menurut Psikiater: Puzzle dan Menggambar Termasuk

Psikiater dari RSJD Surakarta, dr Aliyah Himawati SpKJ merekomendasikan beberapa game edukatif yang baik untuk dimainkan anak. Meski bermain game di gadget memiliki kesan negatif, namun Aliyah mengatakan ada beberapa game yang baik untuk anak. "Tidak semua game menimbulkan reaksi negatif."

"Kita harus pintar memilih game yang banyak menimbulkan reaksi positifnya," terang Aliyah. Menurut dia, ada beberapa game yang bisa menimbulkan hal positif, terlebih bagi anak berusia dibawah 5 tahun. Di antaranya, permainan puzzle, menggambar, memilih pakaian dengan mencocokkan warna.

"Game yang mungkin banyak positifnya untuk anak anak dibawah 5 tahun itu misalnya seperti puzzle, menggambar, memilih baju, dan mencocokkan warna," jelasnya. Kendati ada hal positif dari bermain game tersebut, Aliyah mengingatkan agar orang tua tetap mendampingi. Lebih lanjut, Aliyah juga menyinggung terkait kecanduan anak bermain game yang bisa menganggu kecerdasannya.

"Ada yang mengatakan kalau berlama lama bermain gadget kecerdasan emosiaonalnya yang terganggu." Menurut Aliyah, anak dengan kecanduan gadget tidak memiliki nilai sosial yang membuatnya cerdas secara emosional. Pasalnya, anak dengan kecanduan game akan selalu fokus sendiri dan tidak memikirkan tentang lingkungan sekitarnya.

Anak itu juga akan terbentuk dengan karakter terburu buru akibat game yang selalu dimainkannya. "Bagaimanapun anak dibawah 5 tahun lebih baik bermain secara fisik dan nyata, perbanyak permainan tradisional," tutur Aliyah. Lebih lanjut, Aliyah menjelaskantanda tanda seorang anak terkena kecanduan game atau gadget.

Menurutnya, ada tiga tanda yang harus dicermati ketika seorang anak menjadi kecanduan game. "Yang pertama adalah bermain game atau memegang gadget secara berlebihan, baik dari frekuensi, durasi, dan intensitasnya." "Berlebihan itu misalnya dalam satu hari lebih dari tiga jam, itu sudah harus waspada," imbuhnya.

Tanda kedua, dr Aliyah menuturkan, ketika anak lebih memprioritaskan bermain game daripada menyelesaikan tugas utamanya. "Kalau anak sekolah tugas utamanya menyelesaikan tugas sekolah, tapi karena ia senang sekali dengan gamenya, tugas sekolahnya menjadi terabaikan," paparnya. Lebih lanjut, untuk tanda ketiga, dr Aliyah menyebut ketika seorang anak tetap melanjutkan bermain meski sudah terkena dampak fisik.

Dampak fisik yang dimaksud seperti kelelahan dan sudah mengantuk, tetapi tetap memaksakan diri untuk terus bermain. Bahkan, membuat anak tersebut kekurangan tidur dan kerap menunda lapar karena terlalu asyik bermain game. Ia menjelaskan, seorang anak ditetapkan kecanduan game ketika melakukan ketiga tanda tersebut selama 12 bulan berturut turut.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *