Ungkap Kebingungan Soal Data Covid-19, Gubernur DKI Anies Baswedan Minta Kemenkes Transparan

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan meminta Kementerian Kesehatan RI untuk transparan terkait data kasus pasien positif Covid 19. Anies Baswedan memprediksi jumlah kasus Covid 19 di DKI Jakarta lebih besar dibanding yang disampaikan oleh pemerintah. Anies juga menyoroti banyaknya warga di DKI yang meninggal saat pandemi Covid 19.

Mengenai hal ini, Anies Baswedan meminta Kemenkes untuk transparan. Hal itu disampaikannya dalam wawancara bersama media Australia The Sydney Morning Herald dan The Age. Diungkapkan Anies, transparansi data sangatlah penting.

Masyarakat bisa lebih waspada terhadap penyebaran Covid 19. Masyarakat juga bisa lebih disiplin dan mematuhi aturan pemerintah. Namun, diungkapkan Anies, sejak awal Kemenkes tidak pernah transparan dalam membeberkan data pasien positif Covid 19.

Menurutnya, Kemenkes tidak ingin membuat masyarakat panik. Adapun, Anies mengaku sejak Januari hingga Februari 2020, Pemprov DKI Jakarta telah mendeteksi adanya kasus Covid 19 di Jakarta. Namun, hasil yang disampaikan Kemenkes RI berbanding terbalik dengan laporan pemantauan Pemprov DKI.

Pasalnya, kala itu, Kemenkes RI mengumumkan belum ditemukan adanya kasus Covid 19 di Jakarta. "Menurut kami, bersikap transparan dan menginformasikan (kepada masyarakat) mengenai apa yang harus dilakukan adalah cara memberikan rasa aman. Namun, Kementerian Kesehatan mempunyai pandangan berbeda,

(Kemenkes menilai) transparan akan membuat (masyarakat) panik," kata Anies dalam artikel The Sydney Morning Herald yang terbit pada 7 Mei lalu. Anies juga mengatakan angka kematian Covid 19 di Jakarta lebih tinggi dibandingkan angka kematian nasional akibat Covid 19 yang dirilis Pemerintah Pusat selama ini. Hal ini mengacu pada data pemakaman jenazah dengan protokol pemulasaran jasad pasienCovid 19 yang dimiliki Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta.

Tercatat 4.300 pemakaman jenazah pada paruh kedua Maret 2020 dan 4.590 pemakaman jenazah pada April 2020. Jumlah tersebut menunjukkan adanya kenaikan 1.500 kasus pemakaman jenazah dibanding bulan bulan sebelum pandemi Covid 19 yang rata rata pemakaman jenazahnya hanya sekitar 3.000 setiap bulan. "Angka kematian itu menunjukkan dugaan tingginya kasus Covid 19.

Jika kita sebut tingkat kematian akibat Covid 19 sebesar 5 sampai 10 persen, maka kemungkinan, ada 15.000 sampai 30.000 kasus positif Covid 19 di Jakarta. Angka kematian dan kasus positif Covid 19 diperkirakan jauh lebih tinggi dibanding angka yang dirilis Kemenkes," ujar Anies. Berdasarkan catatan Kompas.com, pada 11 Februari 2020, Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto memang mengatakan, belum adanya virus corona yang terdeteksi di Indonesia seharusnya tidak perlu dipertanyakan.

Apalagi, kata dia, pemerintah telah waspada melakukan pencegahan dan deteksi terhadap orang orang yang diduga terpapar virus corona. "Kita semua waspada tinggi, melakukan hal hal yang paling level kewaspadaannya paling tinggi, dan peralatan yang dipakai juga peralatan internasional," kata Terawan di Kantor TNP2K, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (11/2/2020). "Kalau tidak (ada temuan virus corona) ya justru disyukuri, bukan dipertanyakan.

Itu yang saya tak habis mengerti, kita justru harus bersyukur Yang Maha Kuasa masih memberkahi kita," lanjut dia. Kala itu, Terawan pun berharap tidak ada yang menyangsikan persoalan tersebut. Adapun, Anies sebenarnya sudah berulang kali menyampaikan pernyataan serupa terkait pemantauan Pemprov DKI terhadap kasus Covid 19 dalam sejumlah rapat maupun konferensi pers dengan media nasional.

Salah satunya saat mengumumkan kegiatan belajar di sekolah dihentikan sementara pada 14 Maret 2020. "Kami di Pemprov DKI Jakarta mengantisipasi penyebaran Covid 19 ini sejak bulan Januari," kata Anies saat itu. Pada saat melakukan konferensi video dengan Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin, 2 April 2020, Anies kembali menyampaikan langkah langkah yang dilakukan Pemprov DKI sejak awal Januari.

"Ketika sudah mulai muncul masalah di Tiongkok waktu itu, kami di Jakarta langsung membuat langkah berbicara dengan pengelola rumah sakit rumah sakit di Jakarta. Waktu itu menyosialisasikan tentang gejala gejala dan menyiapkan agar semua fasilitas kesehatan di Jakarta tahu apa yang harus dikerjakan bila menemukan pasien," ucapnya.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *