Pelaku Pemenggal Kepala Bocah SD Diduga Kelainan Seksual, Hasil Otopsi Temukan Ini di Tubuh Korban

Tindakan keji dilakukan oleh Ahmad (37), kepada bocah SD di Katingan, Kalimantan Tengah. Ahmad tega memenggal kepala bocah tersebut dan memisahkan dua bagian tubuh itu di tempat yang berbeda. Tak hanya itu, Ahmad bahkan sempat melakukan tindakan asusila sebelum memenggal kepala korban, H (12).

Bahkan, bocah SD itu bukan satu satunya korban, ada beberapa anak yang mengaku pernah mendapat perlakuan serupa dari pelaku. Tak hanya membunuh korbannya, tersangka juga melakukan tindakan asusila. Dokter forensik RSUD dr Doris Sylvanus Palangkaraya Ricka mengatakan, dugaan itu didasarkan pada hasil otopsi jasad korban.

Ricka menyebut bagian dubur anak berjenis kelamin laki laki tersebut mengalami luka robekan. "Kuat dugaan anak di bawah umur ini adalah korban asusila," katanya, dilansir dari Antara. Kapolres Katingan AKBP Andri Siswan Anyah membenarkan hal tersebut.

Pelaku mengaku memiliki keinginan melakukan tindakan asusila terhadap korban saat kejadian. “Saat korban tidak berdaya, pelaku melancarkan semua aksi seksualnya, setelah puas dengan aksi bejatnya, pelaku kembali ke rumahnya untuk mengambil sebilah parang. Ia langsung membacok kepala bagian belakang korban,” katanya. Dalam pengembangannya, polisi menemukan fakta baru.

Ada anak warga lain yang mengaku bahwa tersangka juga pernah melakukan tindakan asusila padanya. “Ada anak yang mengaku pernah digitukan sama pelaku, namun pelaku hingga kini tidak mengakui," tambah Andri Polisi masih terus melakukan pemeriksaan lanjutan. Termasuk mencari kemungkinan adanya korban lain.

Diberitakan sebelumnya, seorang bocah SD, H (12) ditemukan tewas tanpa kepala di bekas galian tambang ilegal di Katingan, Kalimantan Tengah, Selasa (3/12/2019). Polisi menemukan kepala korban di samping sarang walet milik warga. Peristiwa pembunuhan berawal saat pelaku dan korban bertemu.

Saat itu, korban meminta rokok kepada pelaku. Pelaku mengaku keinginan untuk berbuat asusila terhadap korban muncul. Ia pun mencekik bocah itu dari belakang hingga korban tak berdaya.

Ia kemudian pulang mengambil parang dan memenggal kepala korban untuk menghilangkan jejak. Saat diringkus pada Selasa (10/12/2019), pelaku mengakui semua perbuatannya. Ahmad (37), pelaku pembunuhan sadis terhadap H (12), siswa sekolah dasar, membuang dua bagian tubuh, yakni badan dan kepala, di tempat terpisah untuk menghilangkan jejak.

Polisi meringkus Ahmad (37), pelaku pemenggal kepala H (12), siswa sekolah dasar, di Desa Mahup, Katingan, Kalimantan Tengah, Selasa (10/12/2019). Hingga kini, pihak Kepolisian Polres Katingan masih terus melakukan pemeriksaan terkait motif lain selain sodomi serta adanya dugaan korban lain. Kapolres Katingan AKBP Andri Siswan Ansyah mengatakan, menurut keterangan dari pelaku, kejadian berawal saat pelaku dan korban bertemu.

Saat itu, korban meminta rokok kepada pelaku. Setelah itu, pelaku sempat pergi sambil mengatakan kepada korban untuk menunggunya di belakang, di bawah pohon asam karena pelaku pergi sebentar untuk mencari buah pinang. Saat mereka bertemu, korban kembali meminta rokok kepada pelaku.

Saat korban mengisap rokok, muncul hasrat pelaku untuk menyodomi korban, sehingga akhirnya pelaku mencekik korban dari belakang hingga korban tidak berdaya. “Saat korban tidak berdaya pelaku melancarkan semua aksi seksualnya, setelah puas dengan aksi bejatnya, pelaku kembali ke rumahnya untuk mengambil sebilah parang. Ia langsung membacok kepala bagian belakang korban,” kata Andri kepada Kompas.com sesaat setelah rilis penangkapan pelaku pembunuhan, di Makopolda Kalimantan Tengah. Pelaku lantas membuang kedua bagian tubuh korban pada dua tempat yang terpisah, bagian tubuh korban dibuang di kolam bekas galian tambang ilegal.

Sementara, bagian kepala dikubur di samping sarang walet milik warga yang tidak jauh dari lokasi pembunuhan. Polisi akhirnya bisa menemukan tempat penguburan kepala korban setelah ditunjukkan pelaku.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *