Kisah Calvin Dores Hidup di Rumah Kontrakan Sederhana Bersama Keluarga Setelah Deddy Dores Wafat

Calvin Dores menyebut kondisi ekonomi keluarganya terpuruk setelah ayahnya Deddy Dores meninggal dunia. Nama Calvin Dores mencuat ke publik setelah putra dari almarhum Deddy Dores tersebut diketahui menjadi driver ojek online. Calvin Dores diketahui sebagai anak ke 5 dari Deddy Dores, musisi kenamaan Indonesia dengan segudang prestasi dan karya karya ciamik yang dicintai para penikmat musik.

Nahas menerpa Calvin Dores selepas kepergian sang ayah. Tiga bulan setelah Deddy Dores meninggal, ia pindah ke sebuah rumah kontrakan beralamat di Kelurahan Pondok Karya, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Di sana Calvin Dores tinggal bersama keluarga mertua dan seorang pamannya.

Ia menyewa tiga rumah kontrakan dengan setiap kontrakan dihargai Rp 800 perbulan. Di sebuah ruangan berukuran 2 x 2 di dalam kontrakannya, Calvin menjalani pekerjaannya sebagai seorang calo jual beli sepeda motor Calvin tidak pernah mengeluhkan apa yang telah terjadi.

Walau menjalani kehidupan yang berat, Calvin justru berterimakasih kepada Tuhan atas pelajaran luar biasa dalam hidupnya. "Sekarang juga bukan saya mengeluh atas kejadian itu terus saya jadi down gini, enggak. Justru saya terimakasih sama Tuhan, kalau tidak begitu, saya tidak mengerti cara mencari duit bagaimana," ujar Calvin Dores saat ditemui di kediamannya di Bintaro, Tangerang Selatan, Minggu (9/2/2020). Meskipun hidup sederhana, ia mengaku bangga.

"Sekarang banggalah walaupun rumah saya petakan, saya beli kulkas, motor, pakai duit saya sendiri," ujar Calvin Dores lalu tertawa. Terpuruknya keluarga Deddy Dores menurut Calvin Dores akibat kesalahan baik yang diperbuat dirinya maupun sang ayah. Hal tersebut sempat membuat Calvin dan keluarga terkejut sekalipun desas desus seputar masalah finansial yang dihadapi sang ayah sudah diketahui Calvin sebulan sebelum ia pergi meninggalkan dunia.

"Kesalahan bokap, yang saya tahu dan yang saya tidak tahu. Entah dia tertipu atau apa, kita sampai down gini. Kaget juga bukan karena tidak ada itu. Sebelumnya sih sebulan menjelang tidak ada, udah ada banyak cerita. Entah ada sangkutan di A, sangkutan di B," kata Calvin. Calvin Dores pun lantas bercerita soal asal usul tunggakan yang masih harus dibayarnya hingga saat ini. Deddy Dores menurut Calvin memang senang membelikannya motor gede .

Ketika Calvin masih duduk di bangku SMP sudah dibelikan motor Rider. Kemudian motor tersebut dijual dan ganti Ninja RR, lalu diganti lagi dengan Ninja 250. Kemudian motor tersebut dijual kembali untuk keperluan Deddy Dores.

"Dia biasa gitu. Ganti lagi, Ninja lagi, jual lagi, terus akhirnya kredit, dioper lagi," ujarnya. "Suatu ketika dia ada keperluan, R25 saya ini dijual. Saya takut ini sudah berkali kali begini. Kemudian saya bilang, 'Ya udah ini saya jual buat papa, tapi ini saya beliin R1," tambahnya. Akhirnya Deddy Dores pun membelikan Calvin sebuah motor R1.

Motor tersebut dibeli dari seorang teman Calvin dan baru dibayar setengah harga. Hal tersebut yang kemudian memunculkan masalah finansial bagi Calvin hari ini. Motor R1 yang dibeli Deddy Dores untuk Calvin itu akhirnya tak sempat dilunasinya karena ajal keburu menjemput.

Hal tersebut yang kemudian membuat Calvin harus melunasi setengah utang pembayaran motor R1 tersebut sekalipun nota pembeliannya menggunakan nama Deddy Dores. "Di situ ada trouble, di mana miss ikhtiar bokap sampai akhirnya itu belum kebayar semuanya, baru setengahnya. Utang itulah yang sampai sekarang masih saya angsur. Sekarang masih sisa Rp 50 jutaan lagi. Saya bayar pertiga bulan, kadang 20 juta, kadang 25 juta, kadang 10 juta dari total harga ratusan juta," ungkap Calvin. Tak hanya itu, Calvin mengatakan bahwa Deddy Dores, semasa hidupnya kerap memberikan pinjaman yang jumlahnya mencapai puluhan juta kepada temannya.

Namun, hak itu tak disertai komitmen. Walhasil, uang yang dipinjam tersebut tak pernah dikembalikan. "Karena bokap orangnya terlalu gampang. Dalam arti misalnya teman minjam duit ke dia, dia gampang ngasih tanpa ada komitmennya."

"Terlalu percaya akhirnya dibodohi terus. Kita dulu kalau ketemu teman teman dia yang tanda kutip itu sudah tahu orang orangnya. Wajarlah manusia punya salah gitu," ujar Calvin Dores.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *