IRT Hujat Selingkuhan Suaminya di Facebook, Ujaran Kebencian Terus Terlontar hingga Pasca Cerai

Seorang ibu rumah tangga, Marilambok Pakpahan (33) nekat menghujat selingkuhan suaminya di Facebook sejak sebelum cerai hingga akhirnya cerai. Marilambok merupakan warga Gedong Meneng, Rajabasa, Bandar Lampung. Ketua Majelsi Hakim Hendri Irawan mengatakan, dalam pleidoi (pembelaan) yang dibacakan sebelumnya, terdakwa mengaku terpaksa melakukan ujaran kebencian karena merasa disakiti.

Ia tak terima karena dikhianati oleh suaminya yang berselingkuh dengan wanita lain. "Karena terdorong suaminya masih ada ikatan resmi, yang mana digoda sama saksi korban," ungkap Hendri, Kamis (25/6/2020). Masih kata Hendri, perselingkuhan itulah yang kemudian memicu retaknya rumah tangga terdakwa.

"Kemudian suaminya pergi bersama korban. Ketika itu masih dalam ikatan perkawinan," tandasnya. Terbakar api cemburu, Marilambok Pakpahan minta cerai hingga posting ujaran kebencian di Facebook. Dalam dakwaannya, jaksa penuntut umum (JPU) Ilsye Hariyanti menyebutkan terdakwa merasa cemburu pada saksi korban.

Ia pun menuntut cerai kepada saksi M Rio S. "Selama masa (menunggu putusan) perceraian, terdakwa terus membuat postingan pada akun Facebook terdakwa," terangnya dalam sidang telekonferensi di PN Tanjungkarang, Kamis (25/6/2020). Belum berhenti sampai di situ, lanjut JPU, setelah resmi bercerai, terdakwa terus membuat postingan yang berisi kata kata penghinaan dan mengunggah foto pribadi milik saksi korban.

"Perbuatan terdakwa mengakibatkan nama baik saksi korban menjadi rendah dan nama baiknya menjadi tercemar," tandasnya. Kasus ujaran kebencian berujung hukuman penjara yang dilakukan Marilambok Pakpahan dipicu perselingkuhan. Kisah itu berawal saat suami Marilambok direbut oleh saksi korban.

Merasa tak terima, terdakwa pun mengunggah postingan bermuatan menghina di akun medsosnya. Dalam dakwaannya, jaksa penuntut umum (JPU) Ilsye Hariyanti menyebutkan terdakwa awalnya masih berstatus sebagai istri M Rio S pada 2016 lalu. "Terdakwa merasa kesal karena saksi korban (Nita SB) mengganggu terdakwa dengan mengirim pesan berisi kalimat yang menyombongkan diri dekat dengan saksi M Rio S," sebutnya dalam sidang telekonferensi di PN Tanjungkarang, Kamis (25/6/2020).

Masih kata JPU, terdakwa semakin kesal saat saksi korban terus menerus mengirimkan pesan berisi kalimat tersebut. "Sehingga membuat terdakwa membalas perbuatan saksi korban dengan memposting kata kata penghinaan serta foto pribadi milik saksi korban melalui akun media sosial Facebook. Postingan tersebut dilihat oleh 37 pengguna Facebook dan dikomentari oleh 56 pengguna Facebook," tandasnya. Marilambok Pakpahan (33), warga Gedong Meneng, Rajabasa, Bandar Lampung, menerima vonis enam bulan yang dijatuhkan majelis hakim.

Ibu rumah tangga ini dinyatakan bersalah karena menghujat wanita selingkuhan suaminya di media sosial. Selain vonis enam bulan penjara, Marilambok Pakpahan juga dikenai denda sebesar Rp 100 juta subsider satu bulan penjara. Vonis tersebut lebih ringan empat bulan dibandingkan tuntutan JPU.

Atas vonis tersebut, Marilambok Pakpahan dan jaksa penuntut umum (JPU) Ilsye Hariyanti menerimanya. Adapun JPU menuntut terdakwa dengan hukuman penjara selama satu tahun dan denda Rp 100 juta subsider tiga bulan. Dalam persidangan telekonferensi yang digelar di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Kamis (25/6/2020), majelis hakim menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah.

"Sebagaimana dakwaan tunggal yang diatur dalam pasal 45 ayat 1 jo pasal 27 ayat 3 Undang undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi danTransaksi Elektronik," ungkap ketua majelis hakim Hendri Irawan. "Menjatuhkan pidana penjara selama 6 bulan dengan denda Rp 100 juta subsider 1 bulan penjara," imbuhnya. Adapun hal yang memberatkan adalah perbuatan terdakwa mencemarkan nama baik saksi korban.

"Hal yang meringankan, terdakwa sopan, mengakui perbuatannya, saat terdakwa melakukan perbuatannya masih terikat perkawinan dengan suaminya," tandas Hendri.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *