3 Tersangka Diburu Aparat Kasus Gajah Bunting Mati Berdiri Seusai Makan Nanas yang Diisi Petasan

Sebelum tewas, gajah bunting itu berdiri di sungai dengan mulut dan belalainya yang dicelupkan ke air. Kemungkinan itu dilakukannya untuk mengurangi rasa sakit yang luar biasa. Mamalia itu diperkirakan menderita luka sejak 20 hari lalu dan kelaparan karena tak bisa makan. Aparat terkait memburu tiga orang tersangka dalam kasus matinya seekor gajah bunting seusai memakan nanas berisi petasan di India. Ketiga tersangka itu sudah teridentifikasi.

Diketahui, seusai memakan jebakan nanas itu, gajah malang itu selama berhari hari tak makan. Dia merendam kepala dan mulutnya di air, diduga untuk meredam sakit akibat petasan itu. Lantaran tak bisa makan, sang gajah kelaparan lalu mati berdiri di sungai pada 27 Mei silam. "Keadilan akan ditegakkan," tulis Menteri Kepala Negara Bagian Kerala, Pinarayi Vijayan, Jumat (5/6/2020) di Twitter.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Union Prakash Javadekar sebelumnya juga telah berkicau untuk memburu pelaku. "Dalam insiden tragis di distrik Palakkad, seekor gajah bunting mati. Banyak di antara kalian yang menghubungi kami. Kami memastikan keprihatinan kalian tidak akan sia sia," ucap Menteri Kepala. "Penyelidikan sedang berlangsung, berfokus ke tiga tersangka… Kami akan melakukan apa pun yang bisa menegakkan keadilan," twit Vijayan.

Gajah liar itu sempat masuk sebuah desa dekat Taman Nasional Silent Valley di Palakkad bulan lalu, dan diduga telah memakan buah atau makanan yang berisi petasan. Petasan itu lalu meledak di mulut gajah dan bertahan selama berhari hari, sebelum gajah itu menceburkan diri ke sungai dan mati berdiri di sana pada 27 Mei. Penduduk desa setempat biasanya memakai petasan atau bahan peledak untuk melindungi sawahnya dari hewan liar seperti babi hutan.

Namun, praktik semacam ini telah dikecam secara luas. Foto foto yang beredar di media sosial menunjukkan gajah bunting itu berdiri di sungai dengan mulut dan belalainya yang dicelupkan ke air. Kemungkinan itu dilakukannya untuk mengurangi rasa sakit yang luar biasa. Mamalia itu diperkirakan menderita luka sejak 20 hari lalu dan kelaparan karena tak bisa makan.

Mohan Krishnan, seorang penjaga hutan yang membantu evakuasi gajah, menulis di Facebook, "Saat kami melihatnya berdiri di sungai, dengan kepalanya tercelup di air. Dia punya firasat akan mati." "Dia tidak menyerang satu pun warga meski dia berjalan dengan rasa sakit di jalanan desa." Kemudian, pada Jumat Gubernur Prakash Javadekar berkata, pemerintah telah menangani kasus ini secara serius.

"Kami akan menyelidikinya dan menangkap pelaku. Ini bukan budaya India untuk mengumpan petasan dan membunuh," lanjutnya. Adapun Menteri Kepala Negara Bagian Kerala mengatakan, penyelidikan juga akan mencoba mengatasi peningkatan konflik manusia dengan satwa liar. "Perubahan iklim bisa berdampak buruk bagi masyarakat lokal dan hewan," twitnya.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *